<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-30265111</id><updated>2011-04-22T11:17:43.418+07:00</updated><title type='text'>what u wanna be</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dewakame.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewakame.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dewakame</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13224605651811068030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30265111.post-117487607197687575</id><published>2007-03-26T10:19:00.000+07:00</published><updated>2007-03-26T10:27:51.986+07:00</updated><title type='text'>APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN? (Kisah Nyata)</title><content type='html'>Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan  menciptakan segala yang ada?".&lt;br /&gt;Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".&lt;br /&gt;"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali  lagi.&lt;br /&gt;"Ya, Prof, semuanya" kata mahasiswa tersebut.&lt;br /&gt;Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja," jawab si Profesor &lt;br /&gt;Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Prof. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak tidak bisa kita pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Prof. Kajahatan itu tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak menciptakan kajahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Profesor itu terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30265111-117487607197687575?l=dewakame.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewakame.blogspot.com/feeds/117487607197687575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30265111&amp;postID=117487607197687575' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/117487607197687575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/117487607197687575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewakame.blogspot.com/2007/03/apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan.html' title='APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN? (Kisah Nyata)'/><author><name>dewakame</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13224605651811068030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30265111.post-115223690473466037</id><published>2006-07-07T08:46:00.000+07:00</published><updated>2006-07-07T08:48:24.746+07:00</updated><title type='text'>Sepak Bola Mulut</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sepak Bola Mulut&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Asvi Warman Adam *&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang Indonesia pun yang tampil di lapangan sepak bola dalam Piala Dunia di Jerman.Tidak sebagai pemain maupun sebagai wasit, apalagi pelatih. Tidak ada bola alias si kulit bundar buatan Indonesia dan iklan produk negeri kita di pinggir lapangan. Bangsa kita yang berjumlah lebih dari 200 juta ini hanya penonton. Kita tidak mampu membentuk sebuah tim sepak bola andalan yang terdiri atas 20 orang. Walaupun tidak pandai menggunakan kaki, kita sudah terbiasa memanfaatkan mulut. Maka, yang berkembang di negara ini hanyalah sepak bola mulut. Di mana-mana, dari kafe sampai pos ronda, yang dilakukan adalah nobra (nonton bareng). &lt;br /&gt;Enaknya menonton bersama itu karena ada kesempatan untuk memberikan komentar (apa saja); pokoknya untuk menerapkan sepak bola mulut. &lt;br /&gt;Dalam penayangan Piala Dunia 2006, misalnya, terlihat bahwa di televisi swasta bukan hanya kaki yang menendang bola yang disorot. Melainkan juga mulut-mulut yang melontarkan komentar yang tak kalah hebatnya sebelum dan sesudah pertandingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, entah disengaja atau tidak, banyak di antara presenter dan komentator itu yang berkepala gundul, mungkin agar lebih mudah menyundul bola. Sementara itu, nona-nona manis berceloteh membacakan pertanyaan kuis sambil mengucapkan satu dua kata bahasa Jerman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengamat olahraga tampil berjas dan berdasi di layar kaca dan mengatakan betapa banyaknya keuntungan yang diperoleh Jerman sebagai penyelenggara karena penonton dari mancanegara yang datang sampai tiga juta orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pelawak yang mengisi acara itu menanyakan apakah mungkin Indonesia sebagai tuan rumah sepak bola dunia? Tentu, asal saja kita bisa menjamin kepala para pemain dunia itu tidak bocor terkena botol yang dilemparkan penonton. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejutan dalam Piala Dunia 2006 sekarang ini, yakni tatkala Titik Soeharto tampil sebagai presenter. Mungkin itu untuk memperlihatkan bahwa seorang ibu rumah tangga pun berhak berbicara tentang sepak bola. Karena cukup banyak kritikan pemirsa dan reaksi dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), pada pertandingan keempat, putri mantan presiden itu pun lengser. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ketua umum PSSI sedang beperkara, maka tidak kurang dari menteri olahraga yang tampil sebagai komentator. Bila Anda menonton sepak bola di luar negeri,seperti di Prancis, jangan berharap ada komentar seperti itu.Kecuali laporan pandangan mata ala kadarnya sewaktu pertandingan berlangsung. Para pemirsa di sana dibiarkan menikmati keindahan seni bola kaki itu sepuasnya tanpa diganggu oleh uraian terlalu teknis, tetapi lebih sering lagi asal bunyi dari pengamat atau tokoh yang diundang. Seolah-olah, bila tanpa komentar, pertandingan itu akan hambar dan tidak seru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jutaan pemirsa dianggap terlalu bodoh untuk mengerti jalannya pertandingan sehingga perlu ada pengamat untuk menjelaskan kehebatan strategi seorang pelatih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemain cadangan dari tim kelas dunia, seperti Argentina, mungkin hanya akan tampil sekitar lima menit sebelum bubaran. Namun, komentator sepak bola malah beraksi lebih dari 90 menit. Dan, hebatnya lagi, sang komentator tak pernah cedera atau diganti selama pertandingan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bisa menjadi komentator berasal dari berbagai profesi, terutama mantan pemain dan pelatih sepak bola. Ketika menjadi pemain atau pelatih, prestasinya hanya pada tingkat nasional. Namun, dalam berkomentar, tampaknya, dia seahli pelatih Belanda, bahkan bisa lebih pintar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mempertanyakan mengapa pelatih internasional itu tidak menurunkan pemain cadangan atau sebaliknya. Semestinya si Anu diturunkan sejak awal pertandingan, tidak pada 10 menit terakhir (Saya mendoakan sang komentator Indonesia itu pada akhir hayatnya sempat terpilih menjadi pelatih tim Prancis). Ketika menang sebuah tim yang pernah menjadi juara dunia, walaupun tampil dengan 10 pemain, maka disebutkan bahwa kemenangan itu karena mereka memiliki mental juara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala timbul suasana panas dalam pertandingan antara Belanda melawan Portugal yang menyebabkan dikeluarkan sekian kartu merah dan kuning, maka dijawab sebagai alasannya karena para pemain itu masih muda, jadi mereka biasa terpancing emosi. Sebuah jawaban yang nenek-nenek juga tahu. *** Usai pertandingan Piala Dunia di Jerman ini, marilah kita mengubah karakter dan menyadari sejarah. PSSI didirikan pada 1930, berarti persepakbolaan di tanah air bukanlah barang baru. Setelah berusia 76 tahun kok belum maju-maju juga. Untuk itu, peran mulut harus dikembalikan kepada kaki. Bagaimana caranya agar kita bisa menciptakan kaki-kaki emas untuk mencetak gol yang menggetarkan gawang lawan. Kaki-kaki itu perlu dilatih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah waktunya kita mengubah sepak bola mulutmenjadi sepak bola kaki. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;* Dr Asvi Warman Adam, ahli peneliti utama LIPI,&lt;br /&gt;redaktur pelaksana majalah Sportif (1982-1983)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30265111-115223690473466037?l=dewakame.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewakame.blogspot.com/feeds/115223690473466037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30265111&amp;postID=115223690473466037' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115223690473466037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115223690473466037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewakame.blogspot.com/2006/07/sepak-bola-mulut.html' title='Sepak Bola Mulut'/><author><name>dewakame</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13224605651811068030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30265111.post-115139546501952050</id><published>2006-06-27T15:00:00.000+07:00</published><updated>2006-06-27T15:04:25.020+07:00</updated><title type='text'>TUJUH KEAJAIBAN DUNIA</title><content type='html'>Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari "Tujuh Keajaiban Dunia."&lt;br /&gt;Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini. Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi;&lt;br /&gt;1) Piramida 2) Taj Mahal 3) Tembok Besar Cina 4) Menara Pisa 5)Kuil Angkor&lt;br /&gt;6) Menara Eiffel 7) Kuil Parthenon&lt;br /&gt;Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.&lt;br /&gt;Gadis pendiam itu menjawab, "Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya." Sang guru berkata, "Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."&lt;br /&gt;Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, "Saya pikir, "Tujuh Keajaiban Dunia" adalah, 1) Bisa melihat, 2) Bisa mendengar, 3) Bisa menyentuh, 4) Bisa menyayangi, Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan, 5) Bisa merasakan, 6)Bisa tertawa, 7) Dan, bisa mencintai&lt;br /&gt;Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya "keajaiban". Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai "biasa". Semoga anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul betul ajaib dalam kehidupan anda.&lt;br /&gt;Sumber : Tidak Diketahui&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30265111-115139546501952050?l=dewakame.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewakame.blogspot.com/feeds/115139546501952050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30265111&amp;postID=115139546501952050' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115139546501952050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115139546501952050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewakame.blogspot.com/2006/06/tujuh-keajaiban-dunia.html' title='TUJUH KEAJAIBAN DUNIA'/><author><name>dewakame</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13224605651811068030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30265111.post-115130034654699728</id><published>2006-06-26T12:34:00.000+07:00</published><updated>2006-06-26T14:01:46.386+07:00</updated><title type='text'>POTRET KEHARIINIAN</title><content type='html'>by Herry Mardian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, ibu menghampiriku di tempat aku biasa bekerja. Wajahnya agak miris. Di tangannya ada tiga koran: Kompas, Republika dan Koran Tempo, koran langganan kami setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba lihat ini. Kamu sudah baca?" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak biasa-biasanya ibu mendatangiku hanya untuk membicarakan sesuatu yang tertulis di koran. Pasti berita itu adalah berita yang benar-benar 'mengganggunya'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang ibu tega membunuh anak-anaknya yang masih kecil. Tiga orang sekaligus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, itu. Ya, belakangan ini media pasti memuat kisah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya sudah baca," kataku. Mataku masih di laptop. Jemariku masih di keyboard. Setumpuk buku masih ada di sampingku, beberapa terbuka lembarannya. Pekerjaanku setiap hari. "Ada apa dengan berita itu, Bu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, ibu nggak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu sudah baca semua beritanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah. Kamu tahu nggak, padahal dia lulusan universitas anu dengan IP tiga koma dua sekian," kata ibu menyebut nama sebuah perguruan tinggi terkenal di Indonesia. "Jadi pasti dia orang yang pintar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu yakin dia pintar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kan kata koran IP nya tiga koma dua. Terus, suaminya juga aktivis masjid anu." Kali ini ibu menyebut nama sebuah masjid di depan perguruan tinggi itu. Masjid yang terkenal banyak mewadahi aktivitas keislaman mahasiswa di kota itu. "Tapi dia melarang istrinya bekerja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He'eh," aku menanggapi beliau. "Jadi, menurut ibu wanita itu wanita yang jahat ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa ada wanita baik yang tega membunuh anak-anaknya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas, pelan-pelan, supaya jangan sampai kedengaran beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sisi yang tidak aku sukai dari umumnya media kita. Baik disebagian acara televisi maupun rubrik di koran, banyak yang isinya menggiring persepsi pembaca untuk sampai pada sebuah penghakiman. Belum lagi acara-acara gosip dan koran tabloid, yang terkesan mendidik pembacanya untuk menikmati kisah jatuhnya kehidupan orang, pembongkaran aib-aib, mengangkat masalah rumah tangga orang lain, dan semacamnya. Kinda sucks. As if we are a sarcogyps calvus society, and have many media for our brain to eat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhentikan pekerjaanku. Lalu kuraih cangkir kopiku, sambil menghadap pada Beliau, dia yang memberikan setengah nyawanya untukku ketika melahirkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, seperti ibu tahu, saya kan suka motret. Motret orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu sedikit bingung dengan tanggapanku. Hubungannya ke mana? Itu mungkin kata yang ada dalam kepala beliau saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ibu suka menikmati hasil foto saya, sebagus apapun, itu hanya sebuah potret. Kalau saya memotret pengemis yang wajahnya penuh penderitaan, itu adalah dia, pada saat itu, yang bisa tertangkap oleh kamera. Pada saat itu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Potret seorang pengemis, tidak menggambarkan kenapa dia bisa menjadi seorang pengemis. Kita tidak bisa bilang bahwa dia seorang pemalas sehingga jadi pengemis, atau ibu tirinya dulu jahat, ia tidak diberi kesempatan bersekolah sehingga jadi pengemis yang wajahnya selalu menggamparkan penderitaan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu, potret hanya sebuah data. Data yang diambil pada satu saat tertentu. Besoknya, data itu bisa berubah sama sekali. Kalau di foto sekarang wajahnya terlihat penuh penderitaan, sejam berikutnya bisa jadi saya berhasil memotret dia sedang tersenyum senang. Semua tergantung pada saya sebagai pemotret, pada momen mana foto itu diambil. Tapi satu foto tidak bisa menggambarkan seluruh momen kehidupan si pengemis. Foto adalah sebuah cara bercerita yang terbatas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu masih terus memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berita juga begitu, bu. Seperti potret. Si wartawan hanya memotret apa yang nampak di matanya pada saat itu. Ia hanya menangkap gejala, menangkap indikasi. Kemudian ia menuliskannya atau menyiarkannya di&lt;br /&gt;televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika wartawan menangkap sebuah perilaku seorang wanita yang membunuh anak-anaknya, itu sama sekali tidak menggambarkan bahwa wanita itu jahat secara keseluruhan. Kalau perilakunya membunuh itu, oke. Memang itu perilaku yang, seperti ibu bilang, jahat. Tapi itu pun hanya perilakunya, bukan orangnya. Orang, jika berperilaku tertentu, pasti ada penyebabnya, ada pencetusnya. Ketika orang merasa dirinya terjepit, maka nalurinya bisa membuat seseorang mengeluarkan perilaku yang tidak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ibu, satu potret itu sama sekali tidak bisa menggambarkan bahwa dia memang manusia yang jahat, dari lahir sampai matinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu, kita sebagai pembaca, jangan hanya melihat permukaannya. Yang harus kita lihat adalah apa yang ada di balik itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berita artis anu yang menceraikan istrinya, kita langsung berfikir bahwa dia suami yang jahat. Tidak, belum tentu Bu. Masalah rumah tangga adalah masalah yang terlalu kompleks untuk diliput di satu atau dua berita, dan satu perceraian hanya sebuah indikasi dari sebuah kehidupan rumah tangga. Hanya indikasi. Bisa banyak faktor yang menyebabkan sebuah perceraian, dan siapa tahu itu memang langkah yang benar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu masih memperhatikan juga. Kali ini agak merenung, agaknya 'mencerna' apa yang aku sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau di kasus tadi, Bu. Di balik satu pembunuhan itu, ada banyak sekali kemungkinan lain yang memicu si ibu membunuh anak-anaknya. Kenapa hanya melihat pembunuhannya? Coba ibu juga pertimbangkan misalnya begini: wanita itu orang yang cerdas, pintar. Pernah melalui dua jurusan, Arsitektur dan Planologi, di universitasnya dengan IP tiga koma dua. Pinter kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He'eh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi setelah lulus, suaminya melarangnya bekerja. Padahal siapa tahu, dia sudah punya sebuah rencana besar setelah lulusnya. Tapi karena suaminya mengharuskannya tinggal di rumah, maka kehidupannya menjadi terasa seperti neraka buatnya. Ibu bisa bayangkan kalau orang sepintar itu, dengan semua potensi yang Allah berikan kepadanya, hanya dibolehkan suaminya untuk berurusan dengan dapur, cucian, setrikaan, dan mengasuh anak. Tentu akan frustrasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemungkinan lain: si wanita menyadari bahwa ia harus melakukan semua itu, maksudnya meninggalkan apa yang bisa ia raih dengan potensinya, dan memilih jadi ibu rumah tangga, justru awalnya diniatkan sebagai&lt;br /&gt;sebuah bakti untuk suaminya dan anak-anaknya. Ini justru mulia kan? Hanya mungkin ia pada titik tertentu tidak kuat, dan terpiculah rasa frustrasinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke. Kamu benar. Kalau gitu, apa menurut kamu yang jahat justru suaminya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, bukan Bu. Bukan begitu. Jangan jadi menghakimi karena cerita saya dong. Kemungkinan lain yang saya katakan tadi hanyalah sebagai sebuah gambaran, bahwa kita tidak bisa menghakimi suatu persoalan yang dialami manusia hanya melalui pengamatan yang sebentar saja, dalam jangka waktu tertentu. Karena kemungkinannya sangat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan hanya menuliskan satu kejadian. Sebuah potret. Tapi pembaca seharusnya menjaga hatinya untuk tidak berprasangka buruk hanya karena satu kejadian saja. Itu hanya indikator, seperti speedometer mobil. Kita tidak bisa menilai seperti apa desain mesin mobilnya, sekuat apa bautnya, hanya dengan melihat speedometernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, wartawan seharusnya menjaga untuk tidak menggiring persepsi pembaca, dan Ibu sebagai pembaca harusnya tetap tangguh untuk menjaga persepsinya supaya tidak menjadi terpengaruh karena membaca berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Kalau si A sekarang tingkah lakunya sedang menyebalkan, kita suka seterusnya bilang bahwa dia adalah orang yang menyebalkan. Padahal kan, dia menyebalkan hanya saat itu? Kemarin dia orang yang berbeda, dan besok pun dia orang yang berbeda. Sebaliknya, kalau si B orang yang sangat menyenangkan, itu yang kita potret saat itu. Besok dia akan berubah, dan kemarin dia adalah sosok yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiduplah dalam kehariinian. Persepsi kita mengenai hari ini, jangan diperpanjang ke arah kemarin dan besok. Jangan terlampau&lt;br /&gt;menggeneralisasi segala sesuatu, supaya bisa berprasangka baik. Yesterday has passed, tomorrow is just another day. We live our life today, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ibu mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita bukan hakim, Bu. Untuk apa kita mengambil tanggung jawab untuk memberi sebuah penghakiman, kalau nanti jadi bahan pertanggungjawaban kita setelah mati? Walaupun itu hanya sebuah penghakiman yang diujungnya berlaku bagi diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap diri kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Kita, paling tidak, adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Ummat yang terkecil yang harus kita pertanggungjawabkan kelak, ya diri kita ini."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30265111-115130034654699728?l=dewakame.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewakame.blogspot.com/feeds/115130034654699728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30265111&amp;postID=115130034654699728' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115130034654699728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115130034654699728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewakame.blogspot.com/2006/06/potret-kehariinian.html' title='POTRET KEHARIINIAN'/><author><name>dewakame</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13224605651811068030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30265111.post-115129188237607648</id><published>2006-06-26T10:09:00.000+07:00</published><updated>2006-06-26T10:21:32.273+07:00</updated><title type='text'>Belum ada judul...</title><content type='html'>Mungkin orang kira ini nyontoh judul lagu bang iwan ... tapi ya inilah adanya... aku belum punya judul buat blog ku, titlenya aja ngasal :P&lt;br /&gt;yang pasti blog ini buat iseng-iseng aku aja ... soalnya kadang-kadang pengen juga curhat ke pacar setiaku yang selalu menemani ku dari dolo &lt;-- kayaknya maksa bgt :P yach itulah pacar pertama ku ... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;COMPUTER. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;waduh aku ngomong paan yach ... kok jadi ngawur gini ... tapi yang pasti aku masih dalam keadaan sehat wal afiat kok.&lt;br /&gt;dah ah ... mau cari ilaham dolo, soalnya ilham dah lama gak maen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30265111-115129188237607648?l=dewakame.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewakame.blogspot.com/feeds/115129188237607648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30265111&amp;postID=115129188237607648' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115129188237607648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30265111/posts/default/115129188237607648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewakame.blogspot.com/2006/06/belum-ada-judul.html' title='Belum ada judul...'/><author><name>dewakame</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13224605651811068030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
